Setan dibelenggu, kok masih ada manusia yang sikap dan perilakunya kaya setan?
Photo by Jon Tyson on Unsplash
Setan dibelenggu, kok masih ada manusia yang sikap
dan perilakunya kaya setan?
“Bulan Ramadan setan itu dibelenggu di neraka, tetapi
kok banyak manusia yang sikap dan perilakunya kaya setan? Lantas siapa yang
menggoda kita sedangkan setan aja di belenggu?” Saya sempat berpikir seperti
itu di setiap bulan ramadan walaupun pemikiran itu sifatnya memang sesaat,
hanya seperti angin lewat saja.
Lantas ini sebenernya setan memang di belenggu di
neraka? atau bagaimana sih, kok masih banyak manusia yang sikapnya begitu, apa memang
dasarnya sudah melekat keburukannya sampai tidak memperlukan setan lagi untuk
melakukan hal negative atau bagaimana. Saya juga tidak bisa meng-elak kalo saya
sendiri masih bersikap yang tidak seharusnya di bulan yang suci ini.
Emosi, berkata kasar, mudah tersundut jari-jarinya
untuk membalas comment thread yang konyol di social media terutama twitter. Niat
ngabuburit sambil main game biar puasanya tidak berasa, malah di in game jadi
emosional dan bawaanya mau trash talk saja, karena buff buat hero marksman di
ambil sama tank - nya.
Ada beberapa hadist yang menjelaskan mengenai ke
adaan berpuasa atau kondisi di bulan ramadan, salah satunya HR Bukhari dan
Muslim
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَفُتِحَتْ أَبُوَابُ
الجَّنَةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
Artinya, “Ketika
masuk bulan Ramadlan maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka,
dan pintu-pintu neraka ditutup,” (HR Bukhari dan Muslim).
“Lantas bagaimana dengan dibelengunya setan?” Menurut Ad-Dawudi dan
Al-Mahlab, maksudnya adalah Allah menjaga kaum muslimin atau mayoritas dari
mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan untuk menuruti bisikan setan.
Informasi yang di kutip dari NU Online, banyak penjelasan
yang di berikan oleh ulama dari berbagai pemahaman, ada yang memahami dengan
pendekatan makna hakiki sesuai bunyi teks hadistnya, dan ada juga yang memahami
dengan pendekatan makna yang terdapat di balik bunyi teksnya (majasi).
Namun yang sangat jelas ada beberapa point yang di
tekankan yaitu setan memang benar-benar dibelenggu dan bulan Ramadan pintu
surga di buka, yang mana neraka di tutup sehingga setan tidak bisa menggoda untuk
mencegah kita melakukan perbuatan dosa dan pintu surga di buka
selapang-lapangnya agar kita berlomba-lomba melakukan hal kebaikan dan
bertaubat.
Dalam informasi yang di jelaskan oleh NU dalam
website onlinenya, pertanyaan saya rasanya masih belum terjawab tuntas. Saya
sendiri masih santai saja, karena pemikiran ini hanya pemikiran angin lalu
saja, saya kemudian menonton youtube karena tv di indonesia konten ramadan nya sedikit
di batasi karena pandemic.
Dalam channel Majelis Lucu Indonesia dalam konten
yang sering saya liat menjelang berbuka yaitu “Pemuda Tersesat” yang di isi oleh
Habib Jafar dan Tretan Muslim ( Pemuda Tersesat Eps 18 – Benarkah di Bulan
Ramadhan Setan Dibelenggu?) pertanyaan
saya terjawab.
Menurut Habib Jafar dalam menjawab pertanyaan tretan
muslim, yang pertanyaan Tretan Muslim berusaha mewakili Pemuda Tersesat dan
kali ini sangat mewakili dengan apa yang saya tanyakan, yaitu “Apa makna setan di berlenggu, tapi banyak
orang yang melakukan maksiat” pertanyaan yang sesuai bukan berarti saya menjadi
se-utuhnya Pemuda Tersesat ya, mungkin hanya kebetulan saja, ya kebetulan.
Dari pertanyaan tersebut Habib Jafar pun menjawab “Karena yang memberlenggu setan itu adalah kuasa kita, jadi bukan di berlenggu
karena bulan ramadan, melainkan yang membelenggu itu kuasa kita. Jadi setan akan di berlenggu dengan kuasa orang yang menjalankan puasa dengan
baik dan benar, makanya ada orang yang puasa tapi melakukan hal yang tidak
baik, apabila kita berpuasa baik dan benar akan membuat setan terbelenggu.
Oleh karena itu, yang tidak terganggu adalah orang yang melakukan puasanya
dengan sungguh sungguh, baik dan benar.”
Habib Jafar juga menambahkan “Kata Nabi, ketika kamu berpuasa ingin bohong, ingin marah katakan
kepada dirimu “aku berpuasa” dan karena itu, bukan berarti di bulan
ramadan saja. Ketika kamu sudah dewasa menikahlah agar kamu tidak melakukan
maksiat atau apabila tidak mampu menikah, maka berpuasalah. Agar setan
terbelenggu sehingga anda tidak melakukan maksiat”
Dari video tersebut saya jadi mengetahui dan merasa
“berarti puasa nya yang harus di perbaiki dari segi kualiatasnya” walaupun
perasaan masih hanya sekedar perasaan, belum di lakukan dalam bentuk yang nyata.
Disini saya dan mungkin teman yang membaca menjadi tahu dan bisa mengambil
pelajaran untuk meningkatkan puasanya lebih optimal terutama di minggu-minggu
akhir ini dan untuk bulan bulang kedepanya agar terhindar dari perbuatan yang
tidak sesuai dengan syariat dan norma yang berlaku di masyarakat.
Ramadan kali ini memang berbeda dengan ramadan
sebelumnya, karena di waktu saya upload blog ini, Indonesia dan beberapa negara
sedang terkena dampak pandemic COVID-19 walaupun sekarang pembatasan dikurangi
dan seakan-akan yang sudah patuh mengikuti aturan pemerintah sebelumnya, seperti
sia-sia.
Majelis Ulama Indonesia sudah memberikan beberapa
fatwa, salah satunya Fatwa no 14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah
dalam situasi terjadi wabah covid-19. Ada 11 Fatwa dan 3 Rekomendasi. Seperti
point 6 yang berisi :
“Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak
terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh
menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi
normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat
masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang
melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19,
seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid
atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim. “
Perarturan tersebut
harus di lakukan karena sesuai point 2 rekomendasi yang isinya “Umat Islam wajib mendukung dan mentaati
kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang
terpapar COVID-19, agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.” Di tambah
penegasan dengan point 3 rekomendasi “Masyarakat
hendaknya proporsional dalam menyikapi penyebaran COVID-19 dan orang yang
terpapar COVID-19 sesuai kaidah kesehatan. Oleh karena itu masyarakat
diharapkan menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan/atau dinyatakan
sembuh.”
MUI memberikan 4
arahan terkait ibadah Ramadan di tengan pandemi virus corona, yaitu hindari
kerumunan, rumah sebagai tempat ibadah, ubah kebiasaan beribadah dan tidak
mudik. Banyak arahan dan kebijakan yang sudah di berikan oleh lembaga-lembaga
pemerintah yang ahli dalam bidangnya, tugas kita hanya patuh dan meningkatkan
kualitas puasa kita di seminggu terakhir bulan ramadan, semoga pembelajaran
ramadan kali ini dapat kita aplikasikan di bulan-bulan selanjutnya.
Sumber:


Komentar
Posting Komentar