Hari Anak Nasional
Keluarga adalah tempat pendidikan pertama, dan orang
tua merupakan guru pertama bagi anak di lingkungan keluarga. Mendidik, mendampingi dan
memberikan motivasi adalah suatu hal yang dibutuhkan bagi anak dari orang
tua. Memberikan penjelasan logis hal yang dilarang itu jauh lebih cerdas
dibandingkan memberikan hal yang kurang masuk akal sebagai metode pelarangan
pada anak, seperti “jangan main sore-sore nanti diculik wewe gombel”, yuk mulai
stop melarang seperti itu, cari opsi yang jauh lebih logis & dimengerti
oleh anak.
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” dari pribahasa
tersebut mengartikan bahwa sifat anak tidak jauh berbeda dengan Ayah atau
Ibunya. Memang sifat memiliki beberapa persamaan namun cara mendidik tidak
haruslah sama, buat teman-teman yang membaca dan sudah memiliki komitmen untuk
menikah, apabila ingin memiliki momongan atau sudah memiliki anak, jangan
mendidik anak dengan kekerasan yang mungkin pernah anda alami waktu kecil.
Membangun komitmen seperti menikah di usia muda itu
hak setiap orang, asalkan sesuai dengan persyaratan umur menikah. Namun
untuk menjadi orang tua yang tergolong muda, apakah sudah siap mendidik anak
dengan cara yang baik tanpa ada bayang-bayang mendidik dengan cara “keras”
seperti ketika saya atau anda waktu masih anak-anak?
Dalam memperhatikan pembelajaran di lingkungan atau
orang di sekitar sering didengar kalimat seperti “ambil yang baik-baik saja,
yang buruk jangan ditiru” hal tersebut yang harus diterapkan dalam mendidik
anak. Untuk pengalaman pengajaran keras seperti pulang abis maghrib di sabet
pake sapu lidi, waktu coret-coret tembok menggunakan pensil warna dicubit,
sekarang bisa di ubah dengan cara yang jauh lebih baik.
Berdasarkan Data SIMFONI (Sistem Informasi Online
Perlindungan Perempuan dan Anak) Kemen PPPA terdapat 3.928 kasus kekerasan
terhadap anak-anak yang dilaporkan sejak Januari 2020 sampai dengan 17 Juli
2020. Dari hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2018 oleh
Kemen PPPA menyebutkan bahwa 2 dari 3 anak dan remaja perempuan atau laki-laki
pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.
Dari data tersebut dapat diketahui masih banyak
kasus kekerasan terhadap anak-anak, itu dalam kondisi yang memberikan laporan,
belum yang tidak mengerti cara memberikan laporan atau takut untuk melapor,
mungkin angkanya bisa lebih banyak. Kekerasan bisa terjadi di berbagai tempat,
keluarga, lingkungan ataupun socical media.
Selama masa pandemi ini, banyak kegiatan dan aktifitas
yang biasa dilakukan offline mulai dialihkan menjadi online, salah satunya
pendidikan di Indonesia. Baik mahasiswa atau murid SD, SMP & SMA sistem
pembelajaran menggunakan metode daring, hingga menunggu waktu untuk bisa
kembali belajar di sekolah atau universitas.
Aktifitas yang serba online ini bukan berarti
membuat tindakan kekerasan berkurang, bahkan tindakan kekerasan bisa terjadi di
social media. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mendampingi anak-anak
ketika mengakses internet, agar konten yang negatif dapat dihindari dan
anak-anak menjadi tau hal apa saja yang belum boleh untuk diakses.
“Bagi orang tua, dampinglah anak-anak selama
berinternet jadikan mereka partner diskusi yang setara dengan kita sehingga
mereka memahami sisi positif dan negatif dari internet. Bagi para guru,
manfaatkanlah teknologi internet dengan sebaik-baiknya sebagai sarana interaksi
dan edukasi. Bagi anak-anak, selalu akses konten yang bermanfaat sesuai dengan
usia kalian, jika merasa bingung atau ragu segeralah bertanya kepada orang tua
atau guru kalian.” Menteri PPPA, Bintang Puspayoga dalam Webinar ‘Keluarga
Tangkas Berinternet’, Selasa (21/07) kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dengan Google Indonesia.
Hari ini bertepatan dengan Hari Anak Nasional, di
Indonesia Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli sesuai dengan
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984
yang sebelumnya pada tanggal 6 Juni sebagai Hari Kanak-Kanak Nasional.
Sekali lagi perlu diingatkan bahwa dukungan dari berbagai aspek sangat
dibutuhkan untuk mengurangi kekerasan pada anak. Tidak hanya pemahaman dalam keluarga
untuk mengurangi tindakan kekerasan, lingkungan rumah juga harus saling
memperhatikan apabila ada tindakan kekerasan. Untuk sahabat netizen juga harus
saling bijak dalam membuat konten dan memberikan komentar, agar anak-anak
mendapatkan pembelajaran yang baik dari berbagai aspek. Semoga kekerasan anak
dapat berkurang dan hak anak bisa didapatkan jauh lebih baik untuk setiap anak,
baik kesehatan pendidikan ataupun yang lain-lain.
Selamat Hari Anak Nasional (HAN) untuk anak-anak Indonesia.
Referensi :

Komentar
Posting Komentar